Rabu, 11 Maret 2009

Abid Yang Disesatkan Syaithan

Abid Yang Disesatkan Syaithan
Dikisahkan oleh seorang tabi’in yang bernama Wahhab bin Munabbih, konon terdapat seorang abid dari kalangan bani Israel yang terkenal kesalehannya. Dia begitu tekun dan taat beribadah sehingga dia begitu dihormati dan disegani serta dipercayai oleh bangsanya. Kala itu, hiduplah tiga orang bersaudara yang memiliki seorang saudara perempuan yang masih perawan.
Suatu ketika, ketiga bersaudara ini diperintahkan untuk berperang dalam waktu yang cukup lama. Hal ini membuat mereka sangat khawatir terhadap saudara perempuan mereka. Mereka berfikir kepada siapa dia akan ditinggalkan. Akhirnya mereka sepakat untuk menitipkan saudara perempuan mereka kepada sang abid yang terkenal kesalehannya itu.
Pada awalnya sang abid menolak karena takut tidak mampu menjaganya dengan baik, apalagi dia adalah seorang abid dan yang akan tinggal bersamanya adalah seorang perempuan. Akan tetapi, ketiga bersaudara tersebut terus mendesak dengan alasan tidak ada lagi orang lain yang lebih mereka percaya selain dari sang abid yang sudah terkenal kesalehannya. Mereka sangat yakin sang abid akan mampu menjaga adik mereka dengan baik. Akhirnya atas desakan mereka, sang abid menerima saudara perempuan mereka untuk dititipkan di rumah sang abid selama mereka pergi.
Setelah kepergian ketiga bersaudara itu, tinggallah saudara perempuan mereka di rumah sang abid. Sang abid berada di lantai atas sambil khusu’ beribadah, sementara perempuan itu tinggal di sebuah kamar di lantai bawah. Ketika saat makan datang, sang abid turun dan meletakan makanan di bawah tangga dekat kamar perempuan tersebut, kemudian memberitahukannya bahwa makanan ada di bawah tangga supaya diambil. Kondisi ini terus berlangsung selama beberapa hari tanpa mereka saling menampakan wajah satu sama lain.
Syaithan yang sudah sejak semula memiliki rencana besar untuk menyesatkan sang abid, tetap membiarkan kondisi seperti itu berjalan selama beberapa hari. Hingga akhirnya syaithan memulai rencananya dengan membisikan ke dalam hati sang abid akan kebaikan yang besar. Syaithan membisikan kepada abid, “Jika saja engkau bersedia mengantarkan makanan itu di depan pintu kamarnya, tentulah pahalamu sangat besar di sisi Allah”. Sang abid membenarkan bisikan tersebut, kemudian mengantarkan makanan sampai di depan kamar perempuan itu. Kemudian dia memberitahukan bahwa makanan ada di depan pintu.
Syaithan membiarkan kondisi tersebut berjalan selama beberapa hari. Kemudian ia kembali membisikan ke dalam hati sang abid, “Jika saja engkau mau mengantarkan makanan sampai ke kamarnya, tentulah dia sangat senang dan pahalamu tentu lebih besar dari Allah”. Sang abid kemudian membenarkan ajakan itu kemudian mulailah dia mengetuk pintu dan masuk mengantarkan makanan langsung ke dalam kamar.
Kondisi seperti itu dibiarkan berjalan selama beberapa hari oleh syaithan. Kemudian syaithan membisikan lagi kepada sang abid, “Jika saja engkau mau berbicara dengannya dan mengajaknya bercerita, tentulah dia akan sangat senang dan pahalamu tentu lebih besar lagi di sisi Allah. Sebab, selama ini dia kesepian karena kesendiriannya. Ajakan inipun dibenarkan oleh sang abid, hingga mulailah mereka berbicara yang pada awalnya dalam jarak yang berjauhan di depan pintu, namun kemudian terus mendekat hingga sangat dekat. Mereka mulai bercanda hingga tanpa sengaja mulai “saling cubit” yang akhirnya berujung pada perbutan zina. Perbuatan inipun dilakukan selama berkali-kali sampai perempuan itu hamil.
Ketika itulah datang syaithan ke dalam mimpi sang abid sambil berkata, “Bagaimana kiranya jika nanti ketiga saudara perempuan itu pulang dan mendapati adik mereka sudah melahirkan anak zina?. Bukankah mereka akan membunuhmu?”. Karena dihantui rasa takut dan salah, akhirnya sang abid membunuh perempuan yang sedang hamil tua itu dan meletakan mayatnya di bawah kamar tempat perempuan itu tinggal. Sang abid kemudian membuat kuburan palsu untuk menutupi “kedoknya” dan nanti jika ketiga saudara perempuan itu pulang kuburan itu akan ditunjukannya kepada mereka sebagai kuburan adik mereka yang meninggal karena sakit.
Ketika ketiga besaudara itu pulang, mereka langsung ke rumah sang abid untuk menjemput adik mereka. Sang abid dengan nada sedih dan meyakinkan menceritakan bahwa adik mereka telah meninggal dunia setelah kepergian mereka. Kemudian sang abid menunjukan kuburannya yang sebelumnya dia gali sendiri untuk menutupi kebohonganya.
Ketiga bersaudara itu hanya bisa pasrah dan meratapi kematian adik mereka. Sedikitpun mereka tidak mencurigai sang abid karena kejujurannya yang mereka kenal selama ini. Namun, suatu malam syaithan mendatangi mereka lewat mimpi sambil memberitahukan yang sebenarnya. Syaithan menjelaskan bahwa adik mereka bukanlah mati karena sakit, melainkan di bunuh sang abid karena telah hamil dan akan melahirkan anak hasil hubungan mereka. Sang abid membunuh adik mereka karena takut diketahui perbuatannya. Syaithan menyarankan untuk menggali kamar tempat adik mereka tinggal di rumah sang abid karena disitulah mayatnya dikuburkan. Setelah itu, ketiganya bangun dan saling pandang satu sama lain. Akhirnya mereka saling menceritakan mimpi masing-masing, namun mereka heran ternyata mimpi mereka sama.
Keesokan harinya dengan wajah marah dan emosi ketiga bersaudara ini mendatangi sang abid dan memaksanya untuk mengakui perbuatannya. Karena tidak mengaku, akhirnya mereka menggali kamar tempat adik mereka ditinggalkan. Akhirnya mereka menemukan jasad adik mereka yang sedang dalam kondisi hamil tersebut. Sang abid tidak bisa lagi mengelak dari perbuatannya dan sebagai hukumannya sanga abid dihukum mati dengan cara disalib. Sang abid mati dalam pelukan syaithan dengan kekufurannya.
Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran, diantaranya. Pertama, syaithan tidak akan pernah senang melihat manusia patuh dan taat kepada Tuhan. dengan segala daya dan upaya ia akan menjerumuskan manusia dari jalan Tuhan. Sebab, permusuhan manusia dengan syaithan adalam permusuhan yang abadi dan tidak akan pernah putus. Bahkan Allah swt. telah memperingatkan manusia akan kokohnya permusuhan syaitan, mulai semenjak Adam dalam sorga sampai anak cucunya akhir zaman nanti. Hal itu bisa kita lihat dari ayat-ayat berikut;
فَقُلْنَا يَاآدَمُ إِنَّ هَذَا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَنَّةِ فَتَشْقَى
Artinya: “Maka kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.”(Thaha[20]:117
Sebelum Adam diturunkan ke bumi akibat tergoda oleh syaithan, kembali Allah mengingatkannya akan permusuhan itu. Seperti yang disebutkan dalam surat al-A’raf [4}22
….وَأَقُلْ لَكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: “…dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”
Begitu juga dalam surat al-Baqarah [2]: 26
فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ…
Artinya: “Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain,…”


Begitu juga dengan anak cucu Adam dikemudian hari, Allah peringatkan akan permusuhan ini. Seperti yang disebutkan dalam surat al-A’raf [7]: 27
يَابَنِي ءَادَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
Artinya: “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.”
Begitulah abadi dan kokohnya permusuhan syaithan dengan manusia, dan sampai kapanpun, syaithan tidak akan pernah senang melihat anak cucu Adam yang patuh kepada Tuhan sampai ia berhasil menggelincirkan. Syaithan sendiri telah bersumpah tentang hal itu seperti yang disebutkan dalam surat surat al-A'raf [7]: 16-17
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ(16)ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
Artinya: “Iblis menjawab:" karena Engkau telah menghukum saya sesat, maka saya pasti akan menyesatkan mereka dari jalan-Mu yang benar . kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at).”
Begitu juga seperti yang disebutkan Allah swt dalam surat al-Hijr [15]:39
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Artinya: “Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik perbuatan ma'siat di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.”
Kedua, menyadarkan manusia bahwa betapapun banyaknya ibadah seseorang janganlah membawanya menjadi orang yang sombong dan merasa diri paling berhak menjadi penghuni sorga. Dengan sikap seperti ini manusia akan selalu meningkatkan ibadahnya kepada Allah. Suatu sikap yang ditunjukan oleh para sahabat, para aulia dan para sufi adalah selalu menangis setiap malam saat beribadah, karena merasa bahwa neraka hanya diciptakan untuk mereka sendiri.
Ketiga, bagi orang yang saleh dan taat kepada Allah, maka godaaan syaithan bukanlah dengan dosa dan kejahatan. Namun, godaan syaithan bagi mereka pada awalnya adalah kebaikan dan pahala yang besar, namun diarahkannya untuk selain Allah, seperti ria dan sebagainya. Sehingga tanpa disadari manusia telah masuk perangkap syaithan dan mengikuti jalannya. Oleh karena itulah dalam surat al-Hijr [15]: 40, syaithan menyebutkan manusia yang tidak akan bisa diperdayanya.
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Artinya: “Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.”
Keempat, janganlah seseorang laki-laki pernah berkhalwat (bersunyi-sunyi) bersama seorang perempuan yang bukan muhrim, betapaun shalihnya seseorang itu. Sebab, seksual adalah gerbang utamanya syaithan menggelincirkan manusia dari jalan Tuhan dan mengikuti jalan syaithan. Dalam sebagain tafsir disebutkan bahwa nabi Adam as. terusir dari sorga karena perkara seksual. Kata hâdzi al-Syajarah/ pohon ini ( Q.S. al-Baqarah [2}: 35) di tafsirkan oleh sebgai mufassir dengan jima’/ berhubungan seksual. Akan tetapi, nabi Adam tidak mampu menahan diri, hingga atas bujuk rayu iblis mereka tergelincir melakukan larangan Tuhan. Sehingga sangat wajar kalau Rasulullah saw. mengingatkan, “Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali ada mahramnya bersama mereka, karena tidak ada seorang laki-laki dan perempuanpun yang berdua-duaan kecuali yang ketiga adalah syaithan”.

Tidak ada komentar: