Senin, 30 Juni 2008

Marhabân Yâ Ramadhân

Marhabân Yâ Ramadhân

Bulan Ramadhan adalah bulan paling mulia dan yang selalu ditunggu kedatangannya oleh semua umat Islam. Sehingga ketika Ramadhan datang kita selalu mengucapkan Marhabân Yâ Ramadhân (selamat datang wahai bulan Ramadhan). Ungkapan marhabân yâ Ramadhân mengandung makna yang begitu besar, karena kata ini berbeda dengan ahlan wa sahlan walaupun juga berarti selamat datang. Kata marhabân berasal dari kata rahaba yang berarti lapang atau luas. Dengan demikian, ketika seseorang mengucapkan marhabân Yâ Ramadhân, berarti bulan Ramadhan disambut dengan tangan terbuka, dada yang lapang, dan hati yang luas serta penuh kebahagiaan. Dengan mengucap Marhabân Yâ Ramadhân seseorang mengatakan bahwa kedatangannya bukanlah sesuatu yang memberati atau membebani, bulan ini datang membawa kebahagian.
Ada beberapa hal yang menjadi keistimewaan, kenapa bulan Ramadhan menjadi bulan yang sangat dimuliakan dan begitu ditunggu kedatangannya. Di antaranya adalah; pertama, bulan Ramadhan didatangkan khusus kepada umat nabi Muhammad saw dan mereka disuruh melaksanakan serangkaian ibadah padanya, sebagai bukti kasih sayang Allah swt kepada mereka. Dalam sebuah riwayat yang menceritakan peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi saw disebutkan, ketika Rasulullah saw sampai di Sidratul Muntaha, Allah swt berkata kepada beliau, “Hai Muhammad! mintalah apa yang ingin engkau minta”. Nabi Muhammad saw menjawab “Ya Tuhan engkau telah menjadikan nabi Ibrahim as. Khalîlullah (sahabat Allah), nabi Musa engkau jadikan Kalîmullah (orang yang berdialog langsung dengan Allah), nabi Isa as engkau beri nama Rûhullah (roh Allah)”. Allah swt menjawab “Engkau Aku jadikan Habîbullah (Kekasih Allah/orang yang paling Aku sayangi), dan umatmu juga menjadi umat yang paling Aku sayangi”. Allah swt menyatakan bahwa “nanti di akhirat belum ada umat lain yang memasuki sorga sebelum umatmu memasukinya.”
Bukti kasih sayang Allah swt yang lain adalah dengan memilih bulan Ramadahan sebagai bulan khusus bagi umat Muhammad untuk beribadah. Bagaimana wujud kasih sayang itu?
Dalam al-Qur’an Allah surat al-Baqarah [2]: 143 menyebutkan
... وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا …
Artinya: “ …begitulah kamu Kami jadikan umat yang menegah…”
Umat yang menengah mengandung banyak pengertian, salah satunya adalah menengah fisik dan umur. Sebab, umat Muhammad saw bila dibandingkan dengan umat-umat lalu baik fisik maupun lama masa hidup memang tidaklah sebanding. Misalnya dalam surat al-Ankabut [29]: 14 Allah swt menyebutkan
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.”
Umur 950 tahun tersebut, tidak disebutkan apakah dihitung setelah banjir terjadi atau sebelum banjir. Jika hitungannya setelah banjir, tentulah umurnya lebih panjang lagi dari 950 tahun. Akan tetapi, yang pasti umur umat yang lalu jauh lebih panjang dari umur umat Muhammad saw yang rata-rata hanya berumur 60-70 tahun dan sudah tentu kesempatan beribadahpun tentu lebih banyak dimiliki umat lalu tersebut.
Namun demikian, Allah swt yang telah menjadikan umat Muhammad saw sebagai umat kesayangan, dengan memberikan kesempatan guna mengimbangi ibadah umat lalu tersebut melalui penetapan bulan Ramadhan untuk melaksanakan ibadah tertentu. Kemudian Allah swt menurunkan pada bulan ini satu malam yang disebut malam Qadar (lailat al-qadr),yang dalam surat al-Qadr [97]: 3 Allah swt sebutkan sebagai malam yang jika beribadah pada malam itu, maka nilai ibadahnya lebih baik dari “seribu bulan”. Kata “seribu bulan” semestinya tidak dipahami harfiyah seperti angka seribu yang kita kenal hari ini. Allah swt menyebutkan bilangan seribu pada ayat itu, karena ketika al-Qur’an turun empat belas abad yang lalu, bilangan tertinggi yang dikenal manusia baru berbentuk ribuan. Saat itu belum dikenal angka jutaan, miliyaran, atau triliyunan. Bila saja saat itu sudah ada bilangan triliyun, mungkin redaksi ayat itu akan menyebutkan angka “satu triliyun” bulan. Oleh karena itu, seribu di sini berarti bilangan tertinggi atau tak berhingga. Sebab, malam qadar tersebut Allah swt pertanyakan dengan ungkapan “wa mâ adraka mâ lailat al- qadr” yang berarti “tahukah kamu apa itu malam Qadar?”. Dalam al-Qur’an semua yang Allah swt pertanyakan dengan redaksi wa mâ,a adraka mâ adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh akal manusia, atau berada di luar jangkauan akal manusia, baik waktunya, bentuknya, hakikatnya dan sebagainya. Misalnya firman Allah surat al-Qari’ah [101]: 3, wa mâ adraka mâ al-Qâri’ah (tahukah kamu apa itu kiamat?), atau dalam surat al-Humazah [104]: 4, wa mâ adraka mâ al-huthamah (tahukah kamu apa itu nereka Huthamah?) dan seterusnya. Namun, jika kita ingin mencari ukuran keutamaan malam qadar, carilah bilangan tertinggi yang dikenal oleh manusia, namun hakikatnya Allah Yang Maha Tahu. Sehingga, bila umat Muhammad saw beribadah pada malam tersebut, maka nilainya mengungguli ibadah umat lalu yang walaupun berumur panjang.
Kedua, bulan Ramadhan adalah bulan revolusi agama samawi. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa nabi Ibrahim as menerima shuhuf dari Allah swt pada malam pertama bulan Ramadhan, nabi musa menerima kitab Taurat pertamakali pada malam keduabelas Ramadhan, dan nabi Muhammad menerima al-Qur’an pertamakali pada malam 17 Ramadahan. Begitulah, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan perbaikan bagi penyimpangan yang dilakukan manusia baik secara pribadi maupun kelompok. Secara pribadi bulan Ramadhan dijadikan sebagai wadah pensucian jiwa (tadzkiyat an-nafs) dari kotoran yang berupa dosa dan kesalahan, sehingga manusia kembali lagi kepada fitrah atau kesuciannya. Secara kelompok, bulan Ramadahan Allah swt pilih sebagai momentum perbaikan umat dengan menjadikannya bulan wahyu. Artinya bahwa penyimpangan dan kesalahan serta kekeliruan umat-umat lalu mulai dari umat nabi Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad, Allah swt perbaiki dengan cara menurunkan kitab suci padanya. Seperti yang disebutkan dalam surat al-baqarah [2]: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ...
Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan di mana al-Qur’an diturunkan padanya sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas petntuk-petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan bathil)…”
Ketiga, bulan Ramadhan disebut bulan kemenangan (syahru al-intishâr) baik secara personal maupun komunal. Secara individu, setiap manusia pada bulan Ramadhan berperang melawan hawa nafsu sebagai musuh terbesar manusia, sehingga akhirnya mereka memperoleh kemenangan dengan mengucapkan kalimat takbir sebagai sorak kemenangan pada hari raya îd al-fithr, seperti dalam surat al-Baqarah [2]: 185, “…walitukabbirullâha ‘alâ mâ hadâkum/ hendaklah kamu bertakbir atas kemenanganmu berupa petunjuk dari Allah”.
Sementara kemenangan secara komunal telah dibuktikan sepanjang sejarah umat Islam. Mulai dari kemenangan pada perang Badar tahun 1 hijriyah, penaklukan kota Makkah tahun 8 Hijriyah, kalahnya bangsa mongol dan Tartar yang terkenal ketangguhnya oleh tentara Islam Mamluk di ‘Ain Jalut, sampai kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan, semuanya di peroleh pada bulan Ramadahan.
Oleh karena itu, sudah semestinya kita semua bergembira dengan kedatangan bulan Ramadahan ini sambil mengucapkan Marhabân Yâ Ramadhân. Selanjutnya, kita isi Ramadhan ini dengan ibadah agar kasih sayang Allah benar-benar kita peroleh bersama. Amin

Tidak ada komentar: