Senin, 30 Juni 2008

Penyakit Hati dan Terapinya

Penyakit Hati dan Terapinya

Secara penciptaan manusia terdiri dari dua unsur; jasmani dan rohani. Jasamani adalah bagian yang tampak dan bisa diindra oleh alat indrawi manusia, seperti tangan, kaki, mata, dan organ-organ lainnya. Sedangkan rohani adalah bagian yang tidak tampak dalam diri manusia dan tidak bisa diketahui keberadaannya melalui panca indra.
Sebagian ulama mencoba menjelaskan unsur rohani dalam diri manusia, dengan membaginya ke dalam beberapa aspek; pertama, disebut dengan istilah jiwa, atau dalam bahasa al-Qur’an dikenal dengan sebutan nafs. Nafs atau jiwa diartikan sebagai potensi penggerak dalam diri manusia yang mendorong melakukan suatu perbuatan. Namun demikian, potensi penggerak itu bisa berbentuk positif dan bisa pula negatif. Seperti yang disebutkan Allah swt dalam firman-Nya surat asy-Syams [91]: 7-8
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا(7)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya: “Demi jiwa dan proses penyempurnaannya. Maka Dia mengilhamkan ke dalamnya potensi buruk dan potensi baik.”
Kedua, disebut dengan istilah ruh yang merupakan unsur suci/ quds dan merupakan bagian dari Tuhan yang diberikan kepada manusia. seperti yang disebutkan dalam surat Shad [38]: 71-71
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ(71)فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ(72)
Artinya: “Dan ingatlah ketika Allah berkata kepada para malaikat sesungguhnya Aku menciptkan manusia dari tanah. dan apabila penciptaan itu telah selesai lalu Aku tiupkan ke dalamnya roh Saya.”
Dengan roh Tuhan inilah manusia menjadi lebih mulia dari semua makhluk termasuk dari para malikat. Dengan potensi ilahi ini juga, manusia menjadi objek sujud kedua selain Allah.
Ketiga, disebut dengan istilah aql (akal) yang secara harfiyah berarti mengikat atau menghalangi. Akal disebut aql, karena ia mengikat dan menghalangi manusia dari perbuatan jahat yang merugikannya dan orang lain. Dengan akal, manusia mampu membedakan yang baik dan buruk untuk dirinya dan orang lain, sehingga dia terhalang untuk berbuat semena-mena. Sementara definisi yang lebih lengkap tentang akal adalah, daya untuk memahami, menggambarkan sesuatu serta mengambil pelajaran daripadanya. Seperti yang terdapat dalam surat al-Ankabut [29]: 43
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ
Artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”
Keempat, disebut dengan istilah qalb yang berarti hati. Hati disebut qalb, karena mengikuti sifatnya yang bolak-balik dan selalu berubah. Sementara ulama mendefinisikan hati (qalb) sebagai wadah penampung pengajaran, kasih sayang, perasaan takut, juga keimanan. Seperti yang terdapat dalam surat Qaf [50]: 37
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Artinya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendenganrannya sedang dia menyaksikan.”
Qalb dalam ayat di atas bermakna wadah untuk mendapatkan dan menampung pengajaran. Dalam surat al-Hadid [57]: 27 Allah swt berfirman
…وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَة…ً
Artinya: “…Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih saying…”
Dalam ayat di atas qalb berarti wadah penampung perasaan kasih dan sayang. Dalam surat Ali ‘Imran [3]: 5 Allah swt berfirman
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِه....
Artinya: “Dan Kami masukan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut disebabkan mereka mepersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu…”
Dalam ayat ini qalb berarti wadah penampung rasa takut. Sementara dalam surat al-Hujurat [49] : 7 Allah swt berfirman
...وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ...
Artinya: “…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah di hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekufuran kefasikan dan kedurhakan…”
Dalam ayat ini, qalb berarti wadah penampung iman atau keyakinan.
Oleh karena hati (Qalb) salah satu fungsinya adalah sebagai wadah penampung iman atau tempat berdiamnya keimanan manusia, maka ia menjadi sasaran utama syaithan untuk bercokol dan mengambil tempat berdiam. Syaithan yang sudah semenjak diususir dari sorga, telah bersumpah di hadapan Tuhan akan menggoyahkan, menanggalkan bahkan mencabut keimanan dari manusia sampai hari kiamat. Ia akan selalu mencemari hati manusia dengan berbagai macam dosa, kesalahan, bujuk rayu, sehingga iman yang bertempat di hati manusia bisa dicabutnya. Itulah sebabnya, kenapa syaithan yang menggoda manusia, Allah sebut dengan istilah al-Khannâs (Q.S. an-Nas [114]: 4). Sebab, al-Khannâs juga berarti yang hilang dan timbul mengikuti sifat hati yang selalu berubah, terkadang ingat dan terkadang lupa.
Bila diibaratkan dengan tubuh atau jasmani, dimana yang membuat tubuh sakit dan kehilangan dayanya adalah serangan virus, sehingga akhirnya mendatangkan penyakit bahkan kematian. Maka, syaithan adalah virus bagi hati yang bisa membuatnya sakit dan kehilangan kekuatannya, bahkan bisa membuatnya mati.
Syaithan membuat hati manusia berpenyakit melalui berberapa tahap. Mulai dari tahap paling kecil dan sederhana, dan secara perlahan-lahan, namun pasti ia mengajak manusia ke jalan dosa dan kesesatan, hingga akhirnya hati manusia benar-benar dipenuhi penyakit berupa dosa dan kesalahan yang banyak, dan sakit ini bahkan bermuara kepada matinya hati manusia itu. Itulah yang disebutkan Allah swt dalam surat al- An'am [6]: 113
وَلِتَصْغَى إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُمْ مُقْتَرِفُونَ
Artinya: “Dan agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cendrung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaithan) kerjakan.”
Inilah tiga tahap langkah syaithan membuat hati manusia sakit, sehingga akhirnya mencabut iman dari hati manusia dan menjadilah dia pengikut syaithan. Pertama, menciptakan kecendrungan hati kepada dosa. Kedua, menimbulkan rasa ingin melakukannya. Ketiga, menjadi pelaku dosa atau kejahatan dan mengikuti segala kemauannya.
Hati diibaratkan dengan beberapa perumpamaan. Ada yang mengibaratkan hati seperti cermin yang putih, bening dan mampu memantulkan cahaya. Namun, kebeningan dan kebersihannya bisa hilang jika ada debu yang menempel dan lama kelamaan jika tidak dibersihkan, debu tersebut akan menutupi semua permukaan cermin sehingga cermin menjadi sangat kotor dan tidak lagi mampu memancarkan cahaya Ilahi. Sebab, cahya Ilahi hanya bisa ditangkap dengan dengan hati. Itulah sebabnya kenapa dalam surat an-Nahl [16]: 70, Allah swt menyebutkan hati sebagai sarana mendapatkan ilmu bukan akal, karena ilmu adalah nur Tuhan yang hanya bisa ditangkap oleh hati. Yang mengotori kebersihan hati adalah dosa dan kesalahan sebagai akibat mengikuti godaan syaithan.
Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa hati manusia sama seperti besi yang bisa berkarat. Hati yang pada awalnya sehat, bagus, kuat, lama kelamaan bila tidak di asah dengan ibadah dan dibiarkan begitu saja, sehingga banyak hal yang menghinggapinya, maka ia akan berkarat dan pada akhirnya akan rapuh dan hancur.
Dalam al-Qur’an surat al-Baqarah[2]: 74, Allah swt menggambarkan dan menyamakan hati yang berpenyakit dengan kerasnya batu.
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ...
Artinya:“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan bisa lebih keras lagi dari batu, sebab dari batupun ada yang mengalir sungai-sungai dan ada yang daripadanya bisa keluar dan memancar mata air…”
Hati manusia yang sudah berpenyakit dan sudah sangat parahnya karena sudah menjadi pengikut syiathan, Allah swt samakan dengan batu bahkan lebih keras dari batu. Sebab, di dunia ini agaknya memang tiada yang lebih keras dari batu. Besi yang dianggap keras, masih bisa dibentuk dan diarahkan sesuai keinginan manusia. Sedangkan batu bila dibentuk, ia akan pecah dan hancur.
Oleh karena syaithan adalah virus yang selalu membuat hati sakit, maka perlu diberikan terapi atau pencegahan, agar virus itu tidak hinggap atau menyebar. Adapun terapinya adalah seperti yang disebutkan Allah swt dalam surat al-A’raf {7]: 200-201
وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ(200)إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ(201)
Artinya: “Dan jika kamu ditimpa gangguan dan godaan syaithan maka berlindunglah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaithan mereka ingat kepada Allah ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan mereka.”
Dalam ayat di atas, Allah swt menyebutkan dua terapi cara menangkal virus hati berupa godaan syaithan. Pertama, berta’auwuz atau cepat minta perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan sambil mengucap a’ûzubillâhi min asy-syaithân ar-rajîm. Kedua, berzikir atau mengingat kebesaran Allah swt, baik dengan lidah, hati ataupun perbuatan dalam bentuk ibadah.
Sementara itu, dalam sebuah hadits Rasulullah saw, menyebutkan lima obat sebagai penawar hati yang sakit; yaitu, memperbanyak puasa, shalat malam, berzikir, membaca al-Qur’an, dan sering berkumpul bersama ulama dan orang shalih.
Puasa sebagai pengobat hati, dikarenakan puasa adalah benteng yang melindungi manusia dari dosa dan kesalahan, termasuk dari gangguan syiathan. Dalam sebuah hadits disebutkan ash shaumu junnah (puasa adalah benteng). Di samping itu, dikarenakan hikmah puasa adalah membersihkan rohani manusia dari dosa dan kesalahan, menciptakan rasa solidaritas dan kepedulian yang tentu saja dimiliki orang yang berhati sehat, dan begitu juga puasa menyadarkan manusia akan kehidupan akhirat.
Shalat malam menjadi penawar hati, karena orang yang shalat malam adalah orang yang terbebas dari bisikan dan godaan syaithan. Sebab, orang yang shalat malam akan terhindar dari sikap ria, dikarenakan dia beribadah pada waktu yang tidak diketahui dan dilihat siapapun selain Allah swt. Di samping itu, shalat malam akan membuat seseorang merasakan kedekatan hubungan dengan Allah swt. Sebab, saat itulah waktu yang paling dekat antara hamba dengan Allah swt, seperti dalam hadits Rasulullah saw, “Sesungguhnya keadaan yang paling dekat antara hamba dengan Tuhannnya adalah dipertengahan malam.”
Berzikir menjadi penawar hati yang sakit sesuai dengan firman Allah dalam surat al-A’raf [7]: 201 di atas. Sebab, ketika manusia berzikir syaithan yang di sebut al-Khannâs yang membisikan godaannya dalam hati manusia, akan lari dan menghindar dari manusia bersangkutan. Hati yang terbebas dari syaithan tentu saja adalah hati yang sehat, karena bebas dari virus yang menjangkitinya dan menebar penyakit padanya..
Kemudian membaca al-Qur’an menjadi pengobat hati, dikarenakan fungsi al-Qur’an itu sendiri diturunkan Allah swt sebagai obat bagi hati manusia. seperti yang terdapat dalam surat Yunus [10]: 57, “Hai orang-orang yang beriman telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan obat bagi penyakit-penyakit hatimu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. Tentu saja membaca al-Qur’an tidak cukup dengan membaca lafazh demi lafazhnya, namun juga dituntut pemahamaman dan pengamalan akan isi dan tuntuannya.
Sering berkumpul bersama ulama dan orang shalih menjadi pengobat hati, karena dengan seringnya seseorang bersama mereka minimal manusia bersangkutan akan terketuk hatinya untuk meneladani sikap dan perbuatan ulama atau orang shalih tersebut. Mungkin sekali seseorang yang sering bersama orang shalih, akan mendapatkan pengajaran dan ikut beribadah bersama mereka. Dan pengajaran atau ibadah ini tentu saja sudah menjadi penawar hati yang sakit, karena dia kembali dekat dengan Allah swt melalui pengasahannya dengan serangkaian ibadah. Dalam sebuah haditsnya Rasulullah saw bersabda “Seseorang dibentuk oleh orang sekitarnya”. Dalam ungkapan populer disebutkan “Jika ingin mengetahui seseorang lihatlah dengan siapa dia berteman”.

1 komentar:

Ahda Priatna mengatakan...

afwan mau tanya akhy. itu yang surat al-imran [3]:5 . disitu disebutkan bahwa Dalam surat Ali ‘Imran [3]: 5 Allah swt berfirman
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِه....
Artinya: “Dan Kami masukan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut disebabkan mereka mepersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu…” tapi kenapa berbeda sekali pas ana liat di alqur'an.ayat 5 al-imran ( 5 )Sesungguhnya Allah itu, tidak ada yang tersembunyi atasNya sesuatu juapun di langit dan di bumi. syukron katsiran atas kajiannya. yg ana mau tanya hanya yg itu.