Senin, 30 Juni 2008

Pengawasan Allah Terhadap Manusia

Pengawasan Allah Terhadap Manusia

Kehidupan yang diberikan kepada manusia, adalah salah satu bentuk ujian dari Allah swt, agar Dia mengetahui kualitas seseorang. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Mulk [67]: 2
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
Melalui kehidupan ini, manusia dituntut untuk berbuat yang terbaik demi memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan berikutnya. Dengan demikian, semua yang dilakukan manusia ketika hidup di dunia ini, akan dipertanggung jawabkan nanti di hadapan Allah swt. Rekaman aktifitas mereka akan diperlihatkan tanpa sedikitpun yang tertinggal, baik ataupun buruk. Untuk tugas tersebut, Allah swt sengaja menciptakan makhluk-makhluk-Nya yang secara khusus bertugas menjaga dan mengawasi setiap gerak manusia di pentas kehidupan dunia ini. Hal itulah yang dijelaskan Allah swt dalam firman-Nya surat ath-Thariq [86]: 1-4.
وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ(1)وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ(2)النَّجْمُ الثَّاقِبُ(3)إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ(4)

Artinya: “Demi langit dan yang datang pada malam hari (1), tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu? (2), (yaitu) bintang yang cahayanya menembus (3), tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya (4)”.
Dalam ayat tersebut, Allah swt mengatakan bahwa setiap jiwa memiliki hâfizh (penjaga/pengawas). Pernyataan tersebut, Allah swt ungkapkan setelah terlebih dahulu Dia bersumpah dengan makhluk-Nya yang disebut as-samâ’ (langit) dan ath-thâriq (sesuatu yang datang malam hari).
Menurut para ahli bahasa Arab, kata hâfizh memiliki arti menguasai, memelihara, menjaga dan mengawasi. Hafalan dalam bahasa Arab disebut hifzh, karena sesuatu yang dihafal pasti dikuasai, begitu juga sesuatu yang dihafal pasti dipelihara. Jika tidak ada penguasaan dan pemeliharaan tidaklah disebut hafalan.
Makna hâfizh dalam ayat di atas, setidaknya memiliki dua pengertian. Pertama, pejaga dan pemelihara. Kedua, berarti pengawas. Manusia adalah makhluk yang lemah, sehingga dia tidak mampu menjaga dirinya sendiri. Ketidakberdayaan manusia tersebut, seperti dapat terlihat dalam surat al-Baqarah [2: 216
…وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Oleh karena itulah, Rasulullah saw selau berdo’a kepada Tuhan
ربي لا تكلني الى نفسي طرفة عين
Artinya; “Ya Tuhan, janganlah Engkau menyerahkan diriku ini kepada diriku sendiri sekalipun sekejap mata.”
Pemeliharaan dan penjagaan Allah swt terhadap manusia, bukan hanya dalam bentuk pemberian fasilitas kehidupan, seperti disediakan-Nya air, udara, makanan dan sebagainya, namun juga dalam bentuk pemeliharaan langsung. Sehingga di alam Tuhan ini dikenal dua istilah; sunnatullâh (ketetapan hukum Allah yang bersifat pasti dan tidak berobah), dan ‘inâyatullâh (pertolongan Allah diluar yang terjadi pada hukum-Nya tersebut). Misalnya, jika sebuah pesawat jatuh maka semua penumpangnya akan mati, karena itulah ukurannya -yang memang seharusnya semua penumpang mati- sunnatullâh. Namun, jika ada satu atau dua orang penumpang yang selamat, maka baginya tidak berlaku sunnatullâh karena dia mendapatkan ‘inâyatullâh (pertolongan Allah swt) melalui pemeliharaan Tuhan yang disebut hâfizh. Penjagaan Allah swt tersebut disebutkan-Nya dalam surat ar-Ra’du [13]: 11
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ…
Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah…”
Makna hâfizh yang lain, adalah bahwa setiap manusia memiliki pengawas yang selalu mengawasi setiap gerak langkahnya, bahkan gerak hatinya sekalipun. Tidak ada satupun yang bisa luput dari pantauan Allah swt, karena Allah swt menciptakan banyak pengawas untuk mencatat setiap aktifitas manusia. Hal itu disebutkan Allah swt dalam surat al-Infithar [82]: 10-12
وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ(10)كِرَامًا كَاتِبِينَ(11)يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ(12)

Artinya: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) (10), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu) (11), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan (12).”
Hal yang sama juga disebutkan Allah swt dalam surat Qaf [50]: 18
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
Demikian telitinya pekerjaan para malaikat Tuhan yang bertugas mengawsi manusia tersebut, sehingga yang tersirat dalam hatipun walaupun belum terwujud dalam bentuk perbuatan dan tindakan nyata, sudah dicatat dan menjadi bagian amal yang akan diperlihatkan kepadanya nanti di akhirat. Seperti yang disebutkan Allah swt dalam surat al-Zalzalah [99]: 7-8
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ(7)وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ(8)

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (7). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (8).”
Ada hal yang menarik untuk dicermati antara objek sumpah Tuhan dengan jawab sumpah-Nya. Di mana, untuk menegaskan bahwa setiap manusia memiliki penjaga dan pengawas yang bertugas mengawasi setiap gerakannya, Allah swt terlebih dahulu bersumpah dengan langit yang begitu luas dan dengan bintang yang menembus kegelapan malam. Lalu apa hubungan pengawasan Tuhan dengan langit luas dan bintang yang menembus malam? Di antara jawabannya adalah, bahwa Allah swt ingin mengatakan “Jangankan kejahatan yang digelapkan atau disembunyikan manusia yang kecil, kegelapan malam yang begitu luas bisa Allah tembus dan singkapkan, dengan mengutus makhluk-Nya yang bernama bintang. Lalu apa susahnya bagi Allah swt mengungkap kejahatan yang disembunyikan makhluk kecil seperti manusia, Allah juga bisa membukanya dengan menciptakan makhluk-Nya yang disebut malaikat.

1 komentar:

Nuzulul Akbar mengatakan...

makasi buat artikel nya...

sangat bermanfaat buat saya