Senin, 30 Juni 2008

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw

Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw

Dalam membicarakan persitiwa isra’ dan mi’raj nabi Muhammad saw, minimal ada dua aspek yang bisa dibahas. Pertama, menyangkut peristiwa itu sendiri, dan kedua berkaitan dengan hikmah dan pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa tersebut. Terkait dengan peristiwa isra’ mi’raj itu sendiri, para ulama terbagi ke dalam dua kelompok. Pertama, kelompok yang meyakini bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj itu benar-benar dialami Rasullah saw secara jasmani dan rohani. Sementara pihak lain meyakini bahwa peristiwa itu hanya dialami rohani Nabi saw lewat mimpi. Alasan yang dikemukan kelompok kedua ini adalah alasan yang lebih berlandaskan logika, dimana tidak mungkin jasmani Rasullah saw dapat melakukan perjalanan seperti itu. Bukan hanya kerena waktunya yang relatif singkat, namun juga ketidakmampuan tubuh menahan gesekan udara mengingat perjalanan yang begitu cepat. Namun demikian, kita akan mencoba memahami peristiwa isra’ dan mi’raj tersebut menurut pandangan al-Qur’an.
Peristiwa isra’ dan mi’raj Allah sebutkan dalam surat al-Isra’ [17]: 1
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari masjid Haram ke masjid Aqsha dan telah Kami berkati di sekelilingnya supaya kami perlihatkan kepadanya sebagain dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Berdasarkan ayat di atas, ada beberapa hal yang menarik dicermati untuk kemudian dijadikan alasan yang membenarkan bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj tersebut benar-benar dialami Rasulullah saw secara jasmani dan rohani.

Pertama, Allah memulai ungkapan-Nya dengan Subhâna (Maha Suci Allah), suatu ungkapan yang dalam ilmu bahasa Arab disebut ta’ajjubiyah (kekaguman). Ayat ini merupakan satu-satunya ayat dalam al-Qur’an yang dimulai dengan ungkapan tersebut. Subhâna berasal dari kata sabaha yang berarti menjauh. Berenang dalam bahasa Arab juga disebut dengan kata sabaha, karena seorang yang berenang pada prinsipnya dia menjauh dari tempat pertama dia berada. Dengan demikian, subhâna berarti kita berupaya menjauhkan Tuhan dari segala bentuk kekurangan atau sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan, baik nama, sebutan, ucapan, gelar dan sebagainya. Kita menjauhkan Tuhan dari segala cacat, kekurangan dan kelemahan.
Dari ungkapan awal ayat yang dimulai dengan subhâna, sesungguhnya telah tercermin sebuah makna, bahwa peristiwa tersebut memang sesuatu yang menakjubkan dan mengagumkan sekaligus mencengangkan. Sangat betul, bahwa peristiwa tersebut di luar jangkaun akal manusia, karena Allah Maha Suci dari kekurangan dan ketidakamampuan melakukan hal yang seperti itu. Dari ungkapan subhâna juga, sebetulnya telah ditemukan jawaban bahwa tidak layak meragukan peristiwa is’ra’ dan mi’raj dilakukan Rasulullah saw secara fisik, karena Allah Maha Sempurna dan tidak ada bagi-Nya yang tidak mungkin.
Kedua, bahwa ayat di atas menggunakan kata asrâ yang berarti memperjalankan. Oleh karena itu, Rasulullah saw tidak berjalan sendiri namun diperjalankan Allah swt. Jika Allah swt yang memperjalankan, tentu tidak terikat waktu dan ruang yang dikenal manusia, karena Allah sendiri tidak terikat ruang dan waktu dan berada di luar ruang dan waktu yang dikenal manusia. Oleh karena itu, sangat mungkin perjalanan itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, bahkan lebih singkat dari waktu itu karena Allah yang memperjalankan.
Hal ini mungkin bisa diibaratkan seekor semut yang bercerita kepada temannya, bahwa ia beberapa jam yang lalu pergi ke Jakarta dari Padang dan sekarang tiba kembali di Padang. Tentu saja temannya tidak percaya jika mengukurnya dengan kemampuan yang dimiliki seekor semut. Namun, kalau ia menjelaskan kepada temannya bahwa ia tidak berjalan sendiri, namun ketika itu berada di dalam kantong seseorang yang berangkat ke Jakarat dengan pesawat lalu dibawa lagi kembali ke Padang melalui cara yang sama, agaknya temannya semut akan mempercayai hal yang demikian. Begitulah kira-kira peristiwa isra’ dan mi’raj yang dialami Rasullah saw.
Ketiga, penggunaan kata ‘abdinâ yang berarti hamba kami. Kata ‘abd berasal dari kata ábida yang berarti menyembah dan beribadah. Ibadah seperti shalat, tentu saja bukan hanya dilakukan oleh rohani saja, namun jasmani juga ikut melaksanakan. Oleh karena itu, sebuah ibadah pada prinsipnya perpaduan jasmani dan rohani. Dengan demikian, penggunakan kata ‘abdinâ menunjukan arti bahwa perjalanan isra’ dan mi’raj dilakukan Nabi saw secara jasmani dan rohani, bukan satu unsur saja.
Keempat, dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Rasulullah saw melakukan perjalanan dengan mengendarai hewan sorga yang disebut Buraq yang secara harfiyah berarti kilat. Kemudian dalam perjalanan, beliau didampingi oleh malaikat Jibri dan Mika’il. Seperti yang diketahui, bahwa malaikat diciptakan Allah dari Nur yang berarti cahaya. Dalam ilmu fisika disebutkan, bahwa kecepatan cahaya atau kilat adalah 3x10 pangkat delapan meter perdetik. Artinya dalam satu detik, cahaya dapat menembus jarak 300.000 km. Sementara jarak antara Makah dan Palestina mungkin tidak sampai sejauh jarak satu detik cahaya. Dengan demikian, dari Makah ke Palestina ditempuh Rasullah saw dalam waktu kurang dari satu detik.
Kalau kekhawatiran sebagian kalangan akan ketidakamampuan jasad manusia menahan gesekan udara luar, setidaknya Allah telah memberikan jawaban dengan “...dan telah Kami berkati disekelilingnya...”. Artinya Rasulullah telah diberikan pelindung khusus oleh Allah swt agar aman dari benturan benda asing (sekalipun orang memahami penggalan ayat di atas untuk masjid Aqsha). Bukankah manusia telah mampu menciptakan alat pelindung dari udara luar, saat mereka pergi ke bulan atau ke angkasa luar? Apalagi Allah Yang Maha Pencipta.
Aspek kedua dari pembicaraan ini adalah hikmah dan pelajaran dari peristiwa isra’ dan mi’raj itu. Pertama, berdasarkan catatan sejarah bahwa peristiwa is’ra’ dan mi’raj terjadi pada tahun kesedihan (‘âmul huzni). Di mana, sebelum peristiwa ini terjadi, dalam waktu yang berdekatan dua orang yang sangat dicintai Rasulullah saw dan yang selalu menjadi pendorong dan pembela da’wah beliau yaitu Khadijah; istri beliau dan Abu Thalib; paman beliau meninggal dunia. Rasulullah saw ditimpa kesedihan yang mendalam, ditambah lagi tekananan dan intimidasi dari kaum kafir Quraisy semakin meningkat. Untuk menghibur Rasulullah saw, maka Allah memperjalankan beliau dari masjid Haram ke masjid Aqsha sampai ke Sidratul Muntha.
Ada suatu pengajaran di balik peristiwa yang dialami Rasullah saw, di mana setiap manusia pasti akan mengalami saat-saat yang sulit dalam hidupnya. Dia akan dilanda kesedihan, kesusahan, stres dan sejenisnya. Sebab, Allah swt telah memastikan hal itu dalam surat al-Balad [90]: 1-4. Ketika itu terjadi, maka sebaiknya manusia menghibur dan menenangkan dirinya dengan berjalan. Jangan mengurung diri di kamar atau di tempat sepi, karena syitahan akan datang menemani dan mangajak ke jalannya. Namun demikian, manusia hendaknya jangan salah memilih tempat; jangan pergi ke bar, diskotik, tempat lokalisasi dan sebagainya karena bukannya akan menyelesaikan kesulitan, namun malah akan menambah masalah baru. Ikutilah cara Rasulullah saw yang berjalan dari masjid ke masjid, yang berarti jika mengalami kesulitan pergilah ke masjid atau tempat ibadah lainya. Tetapi, setelah sampai di masjid mi’rajlah (kerjakan Shalat). Sebab Rasululah saw setelah sampai di masjid Aqsha, beliau shalat terlebih dahulu sebelum mi’raj ke langit yang juga bertujuan untuk menjemput shalat. Bukankah Allah mengatakan bahwa “Shalat itu untuk mengingat-Ku”,(Q.S. Thaha [20]: 14) dan di ayat lain “Ketahuilah bahwa dengan ingat kepada-Ku hati akan menjadi tenang” (Q.S. ar-Ra’du [13]: 28).
Kedua, saat malam isra’ mi’raj Rasulullah saw. tidur di masjid Haram ditemani dua orang paman beliau Hamzah dan ja’far. Nabi saw tidur di antara mereka berdua atau ditengah. Saat berjalan mengendarai Buraq beliau ditemani Jibril dan Mika’il, Nabi saw juga berada di tengah. Saat disuguhi minuman oleh malaikat antara madu, susu dan tuak beliau juga memilih yang ditengah yaitu susu.
Begitulah pengajaran yang bisa diambil dari perjalanan Nabi saw, bahwa segala sesuatu yang terbaik adalah yang pertengahan (sederhana). Sebab, Rasullah saw telah menyebutkan, “Khairu al-umûr aushathuhâ” (Sebaik-baik pekerjaan adalah yang sederhana).
Ketiga, bahwa dalam riwayat disebutkan ketika Rasulullah saw dan malaikat sampai batas akhir langit ke tujuh (batas terjauh yang bisa ditempuh makhluk), malaikat Jibril berkata “Wahai Muhammad! saya hanya bisa mengantar sampai di sini, selanjutnya silahkan engkau naik menemui Tuhan”. Akhirnya Rasullah saw naik menemui Allah tanpa ditemani malaikat Jibril untuk menerima perintah shalat. Hal itu menunjukan bahwa pada hakikatnya derajat manusia adalah jauh lebih tinggi dan sempurna bila dibandingkan dengan malikat sekalipun. Sebab, manusia dengan potensi ilahi/Roh Tuhan(Q.S Shad[38]:71-72) yang dimilikinya bisa sampai bertemu dengan Allah. Tetapi, tentu bagi rohani yang bersih dan rohani yang selalu di asah dengan ibadah terutama shalat. Begitulah yang dikatakan Rasullah saw “Shalat itu adalah mi’rajnya orang mukmin”.
Itulah hal-hal yang terkait dengan peristiwa isra’ dan mi’raj nabi Muhammad saw serta hikmah di balik peritiwa itu. Mudah-mudahan kita mendapat pelajaran dari padanya. Amin