Jumat, 01 Agustus 2008

Waktu Menurut Al-Qur’an

Waktu Menurut Al-Qur’an
Di dalam al-Qur’an terdapat empat surat yang diberi nama oleh Allah dengan nama waktu. Yaitu surat al-Fajr (waktu fajar) surat ke 89, surat adh-Dhuha (waktu Dhuha) surat ke 93, surat al-‘Ashr (waktu ‘Ashr) surat ke 103, dan al-Lail (waktu malam) surta ke 92. Hal yang menarik untuk dicermati dari keempat waktu di atas adalah, bahwa ada pesan Allah yang sangat besar bagi manusia terkait konteks pembicaraan masing-masing surat tersebut.
Pertama, ketika Allah bersumpah dengan al-Fajr (waktu fajar), Allah mengaitkan pembicarannya dengan akal dan proses berfikir. Seperti terlihat dalam surat al-Fajr [89] : 1-5 berikut;
وَالْفَجْرِ(1)وَلَيَالٍ عَشْرٍ(2)وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ(3)وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ(4)هَلْ فِي ذَلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ(5)
Artinya: “Demi fajar (1). Dan malam yang sepuluh (2). Dan yang genap dan yang ganjil (3). Dan malam bila berlalu (4). Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal (5).”
Hal itu memberikan sebuah isyarat, bahwa waktu pagi adalah waktu yang semestinya dipergunakan manusia untuk berfikir, melakukan persiapan, membuat rencana sebelum terjun melakukan suatu pekerjaan.
Waktu pagi juga berarti waktu kecil dan waktu muda manusia, yang semestinya dipergunakan untuk menimba ilmu, mencari bekal dan persiapan untuk menghadapi perjuangan hidup di kala dewasanya.
Kedua, ketika Allah bersumpah dengan waktu Dhuha (surat 93), maka pembicaraan Allah terkait dengan amal dan tuntutan kepada manusia untuk berbuat. Sebab, Dhuha sendiri berarti cahaya yang sangat ditunggu semua makhluk, karena mendatangkan kebaikan, baik bagi manusia, hewan maupan tumbuhan.
Tuntutan berbuat itu seperti disebutkan dalam ayat 9-11
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ(9)وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ(10) وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ(11)
Artinya: “Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang (9). Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya (10). Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) (11).”
Hal itu memberikan isyarat kepada manusia, bahwa waktu dhuha adalah waktu untuk berbuat dan memperlihatkan bakti kepada orang lain dan lingkungan. Tentu saja, yang bisa berbuat dan mendatangkan kebaikan kepada orang lain adalah orang yang di waktu paginya telah mencari bekal dan memiliki perencanaan. Bagaimana mungkin seseorang akan menjadi manusia yang berguna bagi orang lain, jika untuk mendatangkan kebaikan terhadap diri sendiri saja dia tidak mampu.
Begitu juga, sudah menjadi sunnatullah bahwa terhadap yang pergi mencari bekal, ilmu, persiapan di waktu pagi, tentu semua orang akan menunggu kehadirannya. Alangkah kecewanya orang lain lain, ketika ada seseorang yang diharapakan mendatangkan cahaya dan kebaikan bagi mereka, namun tampil dengan sangat mengecewakan. Begitu selesai pendidikan misalnya, meraih gelar sarjana, namun tidak mampu berbuat dan mendatangkan kebaikan di tengah masyarakat. Sama halnya, kekecewaan ketika menunggu cahaya pagi, namun matahari yang ditunggu diliputi awan gelap.
Ketiga, ketika Allah bersumpah dengan al-‘Ashr (waktu sore) surat 103), Allah mengaitkan pembicaran-Nya dengan kerugian dan penyesalan manusia. Seperti terlihat dalam ayat 1-2;
وَالْعَصْرِ(1)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(2)
Artinya: “Demi masa (1). Sesusngguhnya semua mansuai berada di dalam kerugian (2).”
Ayat tersebut memberikan isyarat, bahwa yang tidak melakukan persiapan di pagi hari, yang tidak belajar dan mempergunakan kemampuan akalnya di waktu kecil, yang tidak membuat perancanaan di waktu muda dan seterusnya, maka di waktu tua dia akan menyesal dan menjadi orang yang merugi.
Memang kerugian baru dirasakan seseorang, ketika sudah memasuki hari senja. Seperti seorang pedagang, untung dan rugi barulah dihitung ketika hari sudah sore dan matahari menjelang terbenam. Akan tetapi, ketika itu kondisi sudah tidak bisa lagi diperbaiki, selain penyesalan dan meratapi diri ketika dihadapkan pada kerugian, akibat kelalaian sendiri.
Dan keempat, ketika Allah bersumpah dengan waktu malam (al-Lail) surat 92, Allah swt mengaitkan pembicaraan-Nya dengan dua kondisi; Pertama, kesusahan dan kesulitan (al-‘usr, ayat 10), serta neraka yang menyala (nâran talazhzhâ, ayat 14). Kedua, kemudahan dan ketenangan (al-yusr, ayat 7), dan puncak kebahagiaan (ridha Allah, ayat 21).
Hal itu memberikan isyarat, bahwa yang melakukan persiapan di waktu pagi, yang belajar di waktu kecil, yang berencana di waktu muda, dia akan mempu berbuat yang terbaik bagi diri dan orang lain serta menjadi kebanggaan bagi manusia dan lingkungannya. Akhirnya, dia akan menjadi orang yang menang dan beruntung dan di akhir hidupnya dia akan memperoleh puncak kebahagiaan. Jika dia tidur, maka dia akan tidur dengan pulas dan bahagia. Jika dia mati, dia akan mati dengan penuh ketenagan dan kebahagiaan.
Tentu saja, berbeda halnya dengan orang yang tidak melakukan persiapan di pagi hari, tidak belajar di waktu kecil, tidak punya perencanaan di waktu muda, dia akan menjadi makhluk yang tidak berguna, baik bagi dirinya maupuan bagi manusia lain dan lingkungan. Di hari tua, dia akan menjadi orang yang menyesal dan merugi serta akan meratapi diri sendiri. Di waktu malam datang, dia akan berada dalam kesulitan hidup, bahkan untuk tidurpun teramat susah baginya. Jika dia mati, maka ketika kematiannya datang, dia akan berada pada puncak penyesalan.
Begitulah kesan yang didapatkan dalam surat al-Lail [92] : 1-21
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى(1)وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى(2)وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى(3)إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى(4)فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى(5)وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى(6)فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى(7)وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى(8)وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى(9)فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى(10)وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى(11)إِنَّ عَلَيْنَا لَلْهُدَى(12)وَإِنَّ لَنَا لَلْآخِرَةَ وَالْأُولَى(13) فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى(14)لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى(15)الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى(16)وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى(17)الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى(18)وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى(19)إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى(20)وَلَسَوْفَ يَرْضَى(21)
Artinya: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (1). Dan siang apabila terang benderang (2).Dan penciptaan laki-laki dan perempuan (3). Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda (4). Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa (5). dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) (6). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (7). Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (8). serta mendustakan pahala yang terbaik (9). Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar (10). Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa (11). Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk (12). Dan sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia (13). Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala (14). Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka (15). Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman) (16). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu (17) Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya (18). Padahal tidak ada seorangpun memberikan suatu ni'mat kepadanya yang harus dibalasnya (19). Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Maha Tinggi (20) Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan (21).”

Tidak ada komentar: