Senin, 28 Juli 2008

Jangan Menjadi Keledai

Jangan Menjadi Keledai
Di dalam al-Qur’an, Allah swt. menyebutkan satu jenis binatang bernama keledai yang menjadi simbol kebodohan. Allah swt. menyebutkannya, agar manusia mengambil pelajaran daripadanya dan tidak memiliki sikap hidup seperti yang dicontohkan seekor keledai. Adapun sikap bodoh keledai itu adalah;
Pertama, seekor keledai selalu menjadi tunggangan dan pemikul beban manusia. Hal itu seperti disebutkan Allah dalam surat an-Nahl [16]: 8
وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.”
Seekor keledai dengan senang dan bangga mengantarkan manusia dari suatu tempat ke tempat lain dengan memikulnya di atas punggung, atau memikul beban manusia ke sutau tempat yang diinginkan manusia itu. Namun, setelah manusia sampai ke tujuannya atau setelah beban manusia sampai ke tempat dimaksud, keledai yang dengan susah payah menanggung beban tidak lagi disebut jasanya, bahkan nyaris dilupakan begitu saja.
Begitulah sutau bentuk kebodohan yang dicontohkan keledai. Memang, orang bodoh biasanya selalu menjadi tunggangan dan kendaraan bagi yang lain untuk mencapai maksudnya. Namun, ketika mereka telah sampai kepada maksud atau apa yang diinginkanya, manusia yang sebelumnya ditunggangi dan dijadikan kendaraan tidak lagi disebut dan dengan mudah dilupakan. Bahkan, yang lebih ironis mereka terkadang menjadi korban kesusuksesan manusia lain. Lihatlah dalam percaturan politik atau sebuah pergerakan, para politisi dan penguasa menjadikan kelompok masyarakat tertentu sebagai kendaraan mereka, agar bisa sampai ke puncak kekuasaan. Setelah mereka memperoleh kekuasaan, kelompok yang mereka tunggangi dan telah berjuang dengan darah dan keringat mereka, dengan mudah dilupakan dan tidak mendapatkan apa-apa selain penderitaan. Tentu saja kelompok yang mau ditunggangi sepeerti itu adalah kelompok yang “bodoh” seperti keledai.
Kedua, seekor keledai kadang kala memikul sesuatu yang sangat berharga, namun ia tidak bisa mengambil manfaat dari apa yang berada di pundaknya itu. Begitulah yang disebutkan Allah swt. dalam surat al-Jumu’ah [62]: 5
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”
Adalah sebuah kebodohan, jika kita tinggal di negeri yang subur dan kaya raya, namun kita hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Begitu juga, teramat bodoh jika kita tinggal di lingkungan orang-orang pintar dan berilmu, sementara kita tetap berada dalam kebodohan dan keterbelakangan. Jika ada seorang manusia atau sekelompoik orang dalam keadaan seperti perumpamaan di atas, mereka adalah seperti keledai atau bahkan lebih bodoh dari keledai. Sebab, keledai begitu karena tidak memiliki akal, sementara manusia dilengkapi akal yang bisa digunakan untuk berfikir dan mengembangkan diri.
Ketiga, keledai adalah binatang yang berbadan kecil bila dibandingkan binatang sejenisnya seperti kuda dan baghal. Begitu juga, keledai adalah binatang yang bodoh seperti yang telah disebutkan. Akan tetapi, keledai memiliki suara dan ringkikan yang lebih kuat dan nyaring bila dibandingkan dengan suara kuda, baghal atau gajah sekalipun. Seperti yang disebutkan Allah dalam surat Luqman[ 31]: 19
وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ
Artinya: “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”
Begitulah gambaran manusia yang paling bodoh. Mereka tidak memiliki ilmu dan wawasan, berfikiran kerdil, sempit dan picik, akan tetapi memiliki “bualan/ota” yang besar. Mereka adalah orang yang bodoh, namun berlagak lebih hebat dari orang pintar. Mereka adalah orang yang tidak tahu apa-apa, namun tidak sadar dengan ketidaktahuannya. Inilah kelompok manusia yang paling berbahaya, “Orang yang tidak tahu, dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu”. Begitulah salah satu ungkapan filsafat tentang pembagian manusia.
Keempat, keledai adalah binatang yang selalu “nyengir” menampakan giginya dalam kondisi dan situasi apapun. Ketika memikul beban atau sedang istirahat sekalipun, seekor keledai akan tetap “nyengir”. Ketika dibelai atau dimarahi bahkan dipukul sekalipun, seekor keledai akan tetap “nyengir”.
Begitulah gambaran manusia yang bodoh. Mereka tidak bisa membedakan antara pujian dan amarah. Tidak bisa membedakan antara kebahagiaan dan kesedihan. Mereka selalu tertawa dalam setiap keadaan termasuk ketika dimarahi sekalipun.
Manusia yang cerdas adalah mansuai yang mengerti situsi dan kondisi serta mampu menempatkan diri, menjaga sikap dan ucapan sesuai keadaan yang dihadapi. Bahkan, mereka mengerti dan memahami sesuatu dari orang lain, sekalipun dalam bentuk isyarat atau kedipan mata. Dalam ungkapan filosofi masyarakat Minangkabau disebutkan, bahwa manusia yang pintar adalah “Alun takilek alah kalam, takilek ikan di laut alah tau jantan batinonyo”. Maksudnya, manusia yang pintar adalah manusia yang mengerti sesuatau, sebelum orang lain mengatakannya dengan bahasa tegas atau kasar. Bahkan, isyrat berupa kedipan mata orang lain, dia sudah mengetahui maksudnya. Saking bijaksananya, seekor ikan di laut yang melintas secepat kilat di hadapannya, sudah dia ketahui jenis kelaminnya.
Jangan Seperti Seekor Katak

Katak adalah salah satu dari sekian jenis binatang yang disebutkan namanya oleh Allah swt. di dalam Al-Qur’an. Seperti yang terdapat dalam surat al-A’raf [7]: 133
فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ ءَايَاتٍ مُفَصَّلَاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ
Artinya: “Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”
Tentu saja jenis bintanag ini memiliki banyak keutamaan yang mungkin tidak dimiliki makhluk lain. Akan tetapi, dalam hal ini kita akan melihat beberapa sisi jelek seekor katak, untuk kemudian dijadikan pelajaran agar manusia tidak mencontoh sikap buruk tersebut. Adapun sisi jelek seekor katak adalah:
Pertama, katak adalah salah satu binatang yang mengalami fase metamorfosis seperti halnya kupu-kupu dan beberapa makhluk lainnya. Seekor katak mengalami perubahan bentuk dari yang paling sederhana sampai ke bentuk yang paling sempurna. Mulai dari telur, berudu, katak berekor dan katak dewasa. Namun, ada perbedaan hasil dari perubahan bentuk ini, jika dibandingkan dengan kupu-kupu yang juga mengalami proses yang sama.
Jika kupu-kupu ketika masih berbentuk ulat dan kepompong terlihatr amat menjijikan dan jorok. Namun, Setelah berubah menjadi kupu-kupu ia menjadi binatang yang sangat indah, menawan, dan dikagumi manusia. Jika sebelumnya berjalan ia melata di atas tanah, setelah menjadi kupu-kupu ia bisa terbang dengan sayapnya yang indah dan berwarna-warni. Jika ia memasuki rumah manusia, maka manusia dengan senang hati membiarkannya dan tidak mengusirnya. Berbeda halnya dengan katak, ketika ia masih berbentuk berudu rupanya masih agak bagus dan tidak menjijikan. Namun, setelah menjadi katak, justru wujudnya semakin menjijikan dan kotor. Sehingga, ia menjadi salah satu jenis binatang yang dibenci dan diburu manusia. Tidak jarang, jika seekor katak memasuki rumah manusia, ia akan diburu dan dibunuh atau setidaknya diusir.
Itulah sisi buruk dari seekor katak yang tidak boleh dicontoh manusia. Mansuia dalam kehidupan ini juga harus selalu mengalami perubahan dan pendewasaan. Akan tetapi, janganlah hendaknya semakin dewasa, maka orang lain semaik “jijik” dan benci milihatnya. Semakin tinggi pendidikan, maka semakin baik pula hendaknya tempatnya di tengah masyarakat. Janganlah perubahan yang terjadi dalam diri kita membuat orang lain semakin menjauhkan diri atau bahkan membenci kita. Begitulah yang dipesankan Allah swt. dalam surat al-Insyiqaq [84]: 16-19, Allah swt berfirman
فَلَا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ(16)وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَ(17)وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَ(18)لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ(19)
Artinya: “Maka sesungguhnya Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja (16). dan dengan malam dan apa yang diselubunginya(bintang-bintang) (17). dan dengan bulan apabila jadi purnama, (18). Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan). (19)”
Syafaq adalah tanda akan berpindah dari “era” siang kepada “era malam”. Tujuan Allah mendatangkan syafaq agar bermunculan bintang gemintang yang menjadi petunjuk atau rembulan yang menjadi penerang dalam kegelapan. Siang diibaratkan kondisi di mana bintang dan bulan tertutup atau tersembunyi. Dengan datangnya syafaq, muncullah malam sebagai era baru, maka bintang-bintangpun bermunculan dan purnama juga kelihatan cahayanya. Jika saja syafaq tidak terjadi, tentulah malam juga tidak akan muncul dan bintang serta purnama akan tetap tertutup dan tersembunyi.
Hal itu berarti, bahwa setelah melewati suatu proses menuju perubahan, maka diharapkan setelah itu akan bermunculan bintang-bintang yang menjadi petunjuk bagi yang lain atau rembulan yang menjadi penerang di tengah kegelapan. Setelah melewati proses dalam perubahn hidupnya, maka diharapkan manusia menjadi “bintang” yang tinggi kedudukannya, atau “rembulan” yang menyinari alam dari kegelapan. Dan memang untuk menjadi bintang dan rembulan bagi yang lain, manusia harus menempuh proses demi proses dan naik tingkat demi tingkat.
Kedua, katak dikenal sebagai binatang ampibi atau yang hidup di dua alam, air dan darat. Namun, sekalipun katak hidup di dua alam, ia selalu menjadi korban makhluk lain dari kedua alam tersebut. Katak tidak pernah menjadi penguasa pada salah satunya atau keduanya. Jika di dalam air, katak selalu menjadi incaran dan santapan ular dan buaya atau jenis ikan tertentu, maka jika naik ke daratan ia pun menjadi korban diinjak binatang yang lebih besar seperti kerbau, sapi atau bahkan manusia. Tidak jarang juga katak dilindas motor dan mobil yang dikendarai mansuia.
Hidup di dua alam atau pada dua tempat merupakan gambaran makhluk yang tidak memiliki konsistensi dalam hidupnya. Oleh karena itu, manusia jika ingin tenang dan bahagia haruslah memiliki konsistensi dan istiqamah dalah hidupnya. Jika tidak demikian, dia tidak menjadi korban keraguan atau akan selalu diliputi rasa cemas dan takut. Begitulah yang dipesankan Allah swt. dalam surat Fushshilat [41]: 30
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.”
Ketiga, katak adalah binatang yang ceroboh, sehingga populer ungkapan “ilmu katak”. Seekor katak bila terkejut atau bertemu makhluk tertentu, maka ia langsung melompat tanpa mau mengetahui terlebih dahulu sesuatu yang membuatnya terkejut atau apa yang ditemuinya. Seekor katak juga tidak pernah memperhitungkan ke mana dan di mana ia akan melompat dan akan terjatuh. Kadang seekor katak jatuh ke dalam air, ke sebuah lobang, ke atas batu, ke dalam mulut binatang buas, atau bahkan terkadang jatuh ke dalam kobaran api. Sehingga, seekor katak mati bukan karena sesuatu yang datang kepadanya, namun ia mati karena akibat sifatnya yang ceroboh dan tidak pernah memperhitungkan segala sesuatunya.
Begitulah sifat yang tidak boleh dimiliki manusia. Manusia yang dibekali akal oleh Allah swt. dan kemampuan untuk memilih dan memilah, maka tentu sebelum berbuat dan bertindak dia sudah memperhitungkan segala sesuatunya. Termasuk untung dan ruginya keputusan dan tindakannya itu, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Oleh karena itulah, Allah swt. memperingatkan manusia ketika memperoleh suatu berita, maka hendaklah mempertimbangkan segala sesuatunya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Seperti yang disebutkan dalam surat al-Hujurat [49]: 6
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
Keempat, seekor katak memiliki sikap egoisme dalam hidupnya. Di mana, jika seekor katak terdesak ia akan membabi buta mengeluarkan air kencingnya yang mengandung beracun dan mematikan. Demi keselamatan dirinya, seekor katak tidak jarang membuat makhluk lain sengsara atau bahkan binasa. Jika air kencing katak yang disemburkannya ke arah binatang lain mengenai mata, maka dipastikan binatang itu akan mengalami kebutaan atau kerusakan dalam indra penglihatannya.
Begitulah sikap hidup yang tidak boleh dimiliki manusia. Demi kebahagian dan keselamatannya, dia tidak seharusnya mendatangkan bahaya atau kebinasaan kepada yang lain. Dia boleh saja mencari keselamatan dan kebahgiaan, namun jangan menebarkan kerusakan dan “racun” bagi orang lain. Bahkan, yang terbaik dalam ajaran Islam adalah mengutamakan kebahagian dan keselamatan orang lain di atas keselamatan dan kebahagiaan pribadi. Begitulah gambaran sikap muslim sejati, seperti yang disebutkan Allah dalam surat al-Hasyar[59]: 9
…وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ…
Artinya: “…dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)…”
Kelima, katak populer diumpamakan sebagai makhluk yang berfikiran picik dan sempit. Oleh karena itulah, muncul ungkapan “Seperti katak di dalam tempurung”. Sebab, katak ketika berada di dalam sebuah tempurung kelapa, ia akan merasa sangat besar dan hebat. Hal itu terlihat dari suara dan pekikannya yang sangat kuat dan nyaring. Namun, jika nanti ia dikeluarklan dari tutupnya itu, maka suaranya yang tadi keras dan nyaring nyaris tidak kedengaran lagi.
Begitulah sikap pengecut yang diperlihatkan katak, yang seharusnya tidak dimiliki manusia. Sikap merasa diri paling hebat dan berkuasa di tempat dan wilayah yang kecil, namun menjadi penakut jika berada di kawasan dan daerah yang lebih besar. Jika berada di dalam kampung sendiri atau daerah yang kecil, maka suaranya terdengar amat keras seakan dialah orang yang paling pintar dan cerdas. Namun, sedikit saja dia keluar ke tempat lain atau kawasan lain yang lebih luas dan lebih hebat dari sebelumnya, barulah dia sadar akan luasnya dunia dan ternyata masih banyak orang yang lebih hebat dari dirinya. Sikap seperti itulah yang dicela Allah swt. sebagaimana disebutkan dalam surat al-Balad [90]: 5
أَيَحْسَبُ أَنْ لَنْ يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ
Artinya: “Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang berkuasa atasnya? (yang mengatasi)”

Tidak ada komentar: