Senin, 28 Juli 2008

Manusia Adalah Makhluk Yang Pelupa

Manusia Adalah Makhluk Yang Pelupa
Al-insân adalah salah satu kata yang dipakai oleh Allah swt. untuk menyebut makhluk yang bernama manusia. kata insân menurut sebagain ahli bahasa Arab, memiliki keterkaitan makna dengan kata nisyân yang secara harfiyah berarti lupa. Oleh karena itu, manusia tidaklah disebut dengan insân keculai bahwa dia adalah makhluk yang sangat pelupa;
(لا يسمي الإنسان بالإنسان إلا لنسيانه), Begitulah yang dikatakan oleh ahli bahasa.
Adalah sudah menjadi tabi’at manusia, bahwa dia dengan cepat dan mudah melupakan sesuatu, dan baru dia teringat serta menyadari apa yang dilupkan itu ketika berada dalam kondisi dan situasi sulit, genting, susah, atau membahayakan. Menurut informasi al-Qur’an, setidaknya ada dua hal yang seringkali dengan mudah dilupakan manusia, dan barulah dia teringat dan menyadari apa yang telah dilupakan itu, ketika berada dalam kondisi sulit, susah dan membahayakan.
Pertama, manusia dengan mudah dan gampang melupakan Allah swt. dan baru ingat kembali kepada-Nya, ketika manusia menghadapi kondisi sulit, susah dan membahayakan. Begitulah yang disebutkan Allah dalam surat Yunus [10]: 12
وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo`a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.”
Begitu juga dalam surat Fushshilat [41]: 50
وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً….
Artinya: “Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: "Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang…”
Begitulah sifat manusia yang cenderung dengan mudah melupakan Allah dalam kehidupannya. Manusia baru ingat kembali kepada Allah, ketika berada dalam kodisi susah dan berbahaya. Di saat manusia dihadapkan kepada kondisi sulit atau berbahaya, maka yang ada dalam ingatannya hanyalah Allah. Begitu juga ucapan yang keluar dari bibirnya adalah nama Allah, sambil mengharap pertolongan-Nya dalam setiap waktu dan keadaan, berbaring, duduk, atau berdiri. Namun, ketika Allah telah menghilangkan kesulitannya atau telah melepaskannya dari bahaya yang menghadangnya, maka manusia akan berlalu dan melupakan Allah dengan mudahnya, seolah dia tidak pernah mengingat-Nya, menyebut nama-Nya atau mengharap pertolongan-Nya. Bahkan, yang lebih ironis lagi, manusia yang tadinya bersimpuh dan bersujud mengharap pertolongan Allah, begitu lepas dari kesulitan berani menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa apa yang dia peroleh dari keselamatan adalah berkat kemampuan dan usahanya. Dia melupakan pertolongan Allah kepadanya, dan tidak cukup sampai di situ, manusia kemudian mendustakan adanya kiamat dan pembalasan Allah.
Sikap manusia seperti ini, tentu dengan sangat mudah bisa kita amati dan temui. Mislanya, jika sekelompok manusia menaiki sebuah pesawat, dipastikan semuanya akan berdo’a kepada Allah mengharap keselamatan. Dari bibir setiap penumpang akan keluarlah nama Allah dan ungkapan do’a terhadap kepada-Nya. Karena memang pada saat itu, manusia berada dalam kondisi berbahaya. Namun, setelah pesawatnya nanti mendarat, dan manusia kembali menginjakan kakinya di bumi, serta mereka tidak lagi berada dalam kondosi berbahaya, maka Allah akan sangat mudah dilupakan oleh manusia tersebut.
Ketika terjadi bencana semisal gempa bumi, maka serta merta nama Allah akan keluar dari mulut setiap manusia, seraya meminta pertolongan-Nya. Namun, ketika bencana telah usai dan meraka telah diselamatkan dari bahaya, manusia kembali dengan cepat melupakan Allah. Tentu masih segar dalam ingatan kita, ketika isu tsunami merebak akan melanda sebagian besar wilayah di Indosesia, maka mendadak ketaatan manusia meningkat tajam. Di mana-mana diadakan dzikir bersama, istighastah, do’a tolak bala dan sebagainya. Masjid dan mushalla mendadak ramai oleh manusia untuk ikut melaksanakan shalat berjama’ah. Bahkan, bukan hanya berjama’ah dalam shalat wajib, shalat Dhuha pun yang tidak ada aturan berjam’ah, juga dikerjakan manusia secara berjam’ah. Nama Allah dikumandangkan dengan secara bersama di setiap tempat. Hal itu terjadi, karena manusia sedang dihantui bahaya dan bencana. Maka, secara mendadak manusia ingat kepada Allah. Akan tetapi, ketika bencana telah lewat atau tidak jadi didatangkan Allah, maka serta merta manusia kembali melupakan Allah. Tempat-tempat ibadah kembali sepi, dan maksiat kembali meraja lela.
Kedua, manusia dengan mudah dan gampang melupakan amal kebaikan, dan barulah manusia menyadari kelalaiannya atau teringat apa yang dilupakannya, ketika telah berada dalam kondisi sulit, genting dan berbahaya. Dan di dalam al-Qur’an disebutkan minimal ada tiga kondisi genting dan sulit yang dihadapi manusia, di mana saat itulah dia baru menyadari akan kelalaiannya, atau teringat apa yang telah dilupakannya dari amal kebaikan.
Keadaan genting pertama adalah ketika kematian datang menjemputnya. Di saat itulah manusia teringat akan kebaikan yang dilupakannya, dan meminta waktu penagguhan kepada Allah dari kematiannya. Namun, hal itu tidak ada lagi gunanya, sebab Allah tidak akan pernah menerima permohonan mereka untuk mengundur kematian. Seperrti yang disebutkan dalam surat al-Munafiqun [63]: 10
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?".”
Kondisi genting kedua yang disaat itu barulah manusia teringat akan kelaiannya dan sadar apa yang telah dilupakannya dari amal shalaih, adalah ketika sudah berada di alam barzakh. Di alam barzakh, manusia sudah terkungkung dalam suatu wadah, di mana ke belakang dia bisa melihat dunia dan ke depan dia bisa melihat akhirat. Di alam barzakh tersebut, dihadapkan kepada manusia tempat yang akan ditempatinya sesuai dengan amalnya masing-masing. Jika dia calon penduduk sorga, maka sorga dan segala kenikmatannya diperlihatkan kepadanya. Namun, jika dia calon penghuni neraka, maka neraka dan segala bentuk siksanya pun dihadapkan kepadanya. Manusia yang dulu lengah dan melupakan kebaikan, ketika melihat siksa neraka yang akan diterimya, sadarlah dia akan apa yang telah dilupakan dulu. Maka, diapun meminta kepada Allah untuk dikembalikan lagi ke dunia. Akan tetapi, Allah tidak akan pernah mengabulkan permohomoan itu. Itulah yang disebutkan dalam surat al-Mukminun [23]: 99-100
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ(99)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ(100)
Artinya: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) (99). Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (100).”
Kondisi sulit dan genting ketiga yang dihadapi manusia dan barulah ketika itu manusia ingat apa yang telah dilupakannya dari berbuat kebajikan adalah ketika manusia sudah berada di pinggir jurang nereka. Di saat manusia telah melihat azab neraka di depan mata mereka, dan malaikat telah siap melemparkan mereka ke dalamnya, manusia serentak berteriak kepada Allah agar dikeluarkan dari siska yanag akan menimpa mereka dan dikembalikan kepada kehidupan dunia. Jika Allah mengelurkan mereka dari sana, mereka berjanji akan mengerjakan amal shalih yang dulu ketika di dunia mereka lupakan. Namun, permintaan mereka di tolak oleh Allah swt, seperti yang disebutkan dalam surat Fathir [35]: 37
وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
Artinya: “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.”
Kenapa Allah selalu menolak permohonan manusia, mulai dari penangguhan kematian, dikembalikan ke dunia dari alam berzakh, dan dikeluarkan dari siksa neraka serta dikembalikan kepada kehidupan dunia? Di antara jawabannya adalah, bahwa Allah swt. persis tahu tabi’at manusia yang dengan mudah akan melupakan janji dan ucapam mereka. Sekalipun mereka diberi waktu untuk memperbaiki diri, atau bahkan dikembalikan lagi kepada kehidupan dunia, nisacya mereka akan tetap melupakan Allah dan melakukan larangan-Nya. Begitulah yang ditegaskan Allah dalam surat al-An’am [6]: 27-28
وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَالَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ(27)بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ(28)
Artinya: “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan) (27). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka (28).”
Lalu bagaimana cara manusia agar tidak melupakan Allah dan melupakan amal kebajikan? Supaya manusia tidak mudah melupakan Allah dan melupakan kebajikan, dia harus menjsdi manusia yang paling cerdas dan pintar, atau dalam bahasa al-Qur’an disebut Ulul al-Bâb. Sebab, kelompok manusia Ulul al-Bâb memiliki beberapa ciri yang menjadikan mereka makhluk yang selalu ingat Allah dan tidak lupa berbuat kebajikan. Adapun ciri Ulul al-Bâb ini adalah:
1. Orang yang mampu menghargai kehidupan, mengerti dan memahami akan makna dan tujuan hidup yang diberikan Allah swt. Seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah [2]: 179
وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”
Qishash adalah salah satu bentuk penghargaan manusia akan kehidupan. Dengan qishash manusia memahami betapa berharganya suatu kehidupan. Kehidupan bukanlah suatu kebetulan, karena Allah menjadikan hidup adalah dengan tujuan agar Dia mengetahui siapa yang paling baik kualitas amalnya.
Kenapa seseorang melupakan Allah dan melupakan kebajikan? Sebab, dia tidak mengerti dan memahami hakikat dan tujuan kehidupan ini. Bagi yang melupakan Allah dan kebajikan, seringkali berpandangan bahwa hidup di dunia adalah tujuan akhirnya. Oleh karena itu, dalam kehidupan di dunia dia berbuat semaunya tanpa ada rambu dan aturan yang mesti dipatuhi. Namun, bagi yang mengerti akan makna, hakikat dan tujuan kehidupan, dia akan sadar bahwa hidup di dunia adalah sarana menuju kehidupan yang lebih sempurna dan abadi. Sehingga, manusia yang sadar akan hal ini dipastikan tidak akan pernah melupkan Allah dan beramal untuk menghadapi kehidupan yang sempurna dan abadi tersebut.
2. Orang yang selalu memadukan anatara zikir, fakir dan do’a. Seperti
yang disebutkan dalam surat Ali ‘Imran [3] 190-191
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(191)
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (190). (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (191).”
Jika seseorang selalu berzikir kepada Allah swt, selalu berfikir tentang ciptaan-Nya untuk menemukan kebesaran Allah, serta selalu berdo’a kepada-Nya untuk dilepaskan dari siksa api neraka, sudah pasti bukanlah manusia yang melupakan Allah serta melupakan amal kebajikan. Barulah manusia disebut melupakan Allah dan kebajikan, jika ketiga hal tersebut sudah ditinggalkannya.
3. Orang yang mampu membedakan anatar kebaiakn dan keburukan. Seperti yang doisebutkan dalam surat al-Maidah [5]: 100
قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: “Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan."”
Kenapa seorang melupakan Allah dan lupa beramal kebajikan? Sebab, dia sendiri tidak tahu mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang disuruh dan mana yang dilarang, mana yang harus dikerjakan dan mana yang harus ditinggalkan. Ketidaktahuan akan hal inilah yang membuat manusia menjadi sangat mudah melupakan Allah dan amal kebajikan.
4. Orang yang belajar dan mengambil pelajaran dari peristiwa masa lalu. Seperti yang disebutkan dalam surat Yusuf [12]: 111
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ …
Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal…”
Jika saja masusia mampu mengambil pelajaran dari apa yang menimpa umat-umat yang durhaka pada masa lalu, tentulah manusia akan bersegera mengingat Allah dan berbuat kebajikan. Jika saja manusia mampu mengambil pelajaran dari apa yang menimpa raja Namrudz, Fir’aun, Qarun dan tokoh-tokoh pembangkang masa lalu, tentulah manusia tidak akan melupakan Allah dan amal kebajikan. Gampangnya manusia melupakan Allah dan lalai dari kebajikan, disebabkan manusia tidak mampu mengambil pelajaran dari cerita dan peristiwa masa lalu.
5. Orang yang mau menerima kebenaran dan nasehat. Seperti yang disebutkan dalam surat ar-Ra’d [13]: 19
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: “Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.”
Jika seseorang tidak buta mata hatinya dari kebenaran dan nasehat orang lain, tentulah dia tidak akan lupa kepada Allah dan kebajikan. Namrudz, Fir’aun, Qarun, Abu Jahal, Abu Lahab dan sebagainya, mereka melupakan Allah dan kebajikan karena hatinya telah buta untuk menerima kebenaran dan nasehat. Sekalipun mereka sadar bahwa yang datang kepada mereka adalah kebenaran, namun mereka menutup hati mereka agar tidak menerimanya. Hal inilah yang membuat mereka lupa akan Allah dan lupa akan kebajikan.
6. Orang yang mau mempelajari al-Qur’an dan mengambil pelajaran dari padanya. Seperti yang disebutkan dalam surat Ibrahim [14]: 52
هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: “(Al Qur'an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.”
Jika saja seseorang mau mendekatkan diri dengan Al-Qur’an dengan cara membaca, memahami dan mengamalkannya, tentulah dia tidak akan lupa kepada Allah dan kebajikan. Bagaimana mungkin dia akan melupakan Allah, ketika dia selalu dekat dengan kalam-Nya? Begitu juga, bagaimana mungkin seseorang dikatakan lupa beramal, sementara membaca dan mempelajari al-Qur’an adalah suatu amal kebajikan yang sangat besar nilainya? Begitulah manusia paling cerdas yang tidak akan pernah lupa kepada Allah dan berbuat kebajikan.

1 komentar:

Eka Rachman mengatakan...

Kajian ini menjawab keingintahuan saya... Blog yg sangat bermanfaat..